November 9, 2012

Mengenal Kontruksi Jalan Bambu

Bambu adalah material untuk struktur bangunan yang paling tua dan paling ramah lingkungan yang pemah dikenal oleh umat manusia. Dalam kehidupan masyarakat di Indonesia bambu memegang peranan yang sangat penting. Bahan bambu dikenal oleh masyarakat memiliki sifat-sifat yang baik untuk dimanfaatkan antara lain batangnya kuat, lurus, rata, keras, mudah dibelah, mudah dibentuk, dan mudah dikerjakan serta mudah diangkut. "Bambu merupakan salah satu tanaman yang tumbuh paling cepat hanya dalam kurun waktu 3-5 tahun sudah siap tebang dengan serat paling panjang, memiliki tensile enam kali lebih kuat dari besi".

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bambu dapat digunakan sebagai lapisan yang membantu dalam menambah fleksibilitas jalan. Tujuan penggunaan bambu tersebut agar jalan lebih awet dan lebih kuat dalam menahan beban. Material bambu ini akan dipadukan dengan bahan-bahan konstruksi jalan yang dapat ditemui pada jalan-jalan konvensional yaitu :
  • batu kali
  • batu kapur (limestone). 
Inovasi ini layak dikenalkan karena melalui metode konstruksi jalan biaya yang digunakan dalam inovasi ini tergolong murah dan menggunakan bahan-bahan alami yang dapat ditemui dengan mudah disekitar lingkungan. Metode tersebut merupakan metode yang aplikatif dan dapat dapat menerapkan di masing-masing daerah secara swadaya dengan waktu pelaksanaan yang relatif singkat.
Beberapa data teknis untuk bambu adalah : 
  • kekuatan tarik (tegangan patah untuk tarik) = 1000-4000 kg/cm2
  • kekuatan tekan (tegangan patah untuk tekan) = 250-1000 kg/cm2
  • modulus kenyal untuk tarikannya = 100.000-300.000 kg/cm2
  • tegangan izin tarik = 300 kg/cm2
  • tegangan izin tekan = 80 kg/cm2
  • tegangan izin lentur = 100 kg/cm2
  • modulus kenyal untuk tarik dan tekan = 200.000 kg/cm2.
Bambu memiliki sifat-sifat yang khas seperti titik jenuh serat bambu berkisar 20%- 30%, bagian dalam bambu lebih banyak mengandung lengas (air bebas) dari pada bagian luar. Bagian buku-buku (knots) mengandung 10% kadar air lebih sedikit dari pada bagian ruasnya. Daya serap air bambu sangat besar, mencapai 300% jika digunakan sebagai tulangan beton.
DESAIN UTAMA KONSTRUKSI
Perancangan konstruksi jalan dilakukan dengan penggunaan kombinasi anyaman bambu dan batu kali sebagai lapis pondasi (base coarse), batu kapur sebagai lapis permukaan (surface coarse), serta tanah yang dipadatkan sebagai lapis tanah dasar (subgrade). Ditinjau dari segi dimensi jalan akan memiliki lebar sebesar 3 meter dan panjang disesuaikan dengan kebutuhan. Jalan akan memiliki ketebalan sebesar 20 cm yang tersusun dari 10 cm sebagai lapisan pondasi (kombinasi anyaman bambu dan batu kali) dan 10 cm sebagai lapis permukaan batu kapur. Detail perancangan dilakukan sebagai berikut :
  • rancangan tanah dasar (subgrade). Dalam merancang tanah dasar, tanah yang digunakan adalah tanah asli yang ada di lokasi konstruksi, kemudian tanah tersebut dipadatkan dengan cara sederhana, supaya didapatkan elevasi tanah yang relatif rata dan datar.
  • Rancangan lapis pondasi (base coarse). Setelah tanah dasar siap maka selanjutnya dapat dilakukan tahap konstruksi lapis pondasi, yaitu menyiapkan batang bambu yang digunakan sebagai anyaman, belah bambu tersebut menjadi empat bagian dan ratakan sehingga dihasilkan bilahan-bilahan yang sama panjang.
PROSES ANYAMAN BAMBU
Untuk proses menganyam bambu langkah-langkahnya sebagai berikut :
  • menyusun bilah bambu seeara memanjang, dengan jarak 20 cm dan untuk lebar jalan 3 meter dibutuhkan 15 bilah bambu
  • bilah lain disusun di atas bilah sebelurnnya seeara melintang dengan jarak antar bilah juga 20 cm, panjang jalannya 1 meter maka dibutuhkan bilah bambu melintang sebanyak 5 batang dengan masing- masing memiliki panjang 3 meter
  • bilah-bilah melintang disatukan dengan bilah-bilah memanjang menggunakan paku ukuran 10 cm sebanyak 75 buah sehingga membentuk anyaman bambu dengan bentuk segi empat berukuran kurang lebih 20x20 cm
  • anyaman bambu diletakkan di atas tanah dasar pada lokasi konstruksi jalan, pasak dipasang pada ujungujungnya, sehingga anyaman kokoh mencengkeram tanah
  • untuk dinding penahan jalan, disusun dengan menyatukan pasak-pasak yang digunakan untuk menahan anyaman bambu dengan menggunakan bilah-bilah bambu hingga ketebalan 20 cm
  • sebar batu kali keseluruh konstruksi jalan, dan padatkan sehingga batu kali mengisi rongga anyaman hingga ketebalan anyaman bambu ditambah batu kali meneapai 10 cm.
PERENCANAAN KONSTRUKSI JALAN
Untuk membangun konstruksi jalan dengan metode inovasi ini dibutuhkan material sebagai berikut:
  • Batu kapur = lebar jalan x panjang jalan x tebal lapisan kapur = 3 meter x 1 meter x 0,1 meter = 0,3 m3
  • Batu kali = lebar jalan x panjang jalan x tebal lapisan batu kali = 3 meter x 1 meter x 0,1 meter = 0,3 m3
  • Bambu = lebar jalan/20 cm x panjang jalan = 15 satuan x 1 meter = 15 meter (memanjang) = panjang jalan/20 em x lebar jalan = 5 satuan x 3 meter = 15 meter (melintang) = 2 x panjangjalan x 5 bilah bambu = 2 x 1 meter x 5 = 10 meter (dinding penahan)
*) pasak bambu = 1 meter = 5 bilah bambu = 20 em
Sehingga dapat diurutkan bahwa total material yang dibutuhkan untuk asumsi panjang jalan per meter adalah:
  • Bambu = 41 meter/meter jalan Batu kali = 0,3 meter/meter jalan
  • Batu kapur = 0,3meter/meterjalan
  • Paku =75 buah per meter jalan
Dengan menggunakan data biaya material yang diperlukan, maka dapat dihitung jumlah biaya konstruksi jalan per meter dengan rincian sebagai berikut:
  • Bambu         = 41 meter x Rp 7.500,-/m      = Rp 307.500,- 
  • Batu kali      = 0,3 meter x Rp 170.000,-/m = Rp   51.000,-
  • Batu kapur   = 0,3 meter x Rp 170.000,-/m = Rp   51.000,-
  • Paku             = 0,5 kg x Rp 12.000,-/m        = Rp     6.000,-
  • Jumlah total = Rp 415.500,-/meter ja1an
Sekian dan semoga bermanfaat...

No comments:

Post a Comment